Untuk mengenal aku tinggalkan bisik-bisik orang esok kita bertemu dan berbicara tentang kedewasaan.
Kemudian terserah menantikan episod pertemuan lanjut atau tanamkan aku dalam kebun perkenalan.
Nanti pohonnya berbuah lebat ada yang lain peroleh manfaat.
HUJAN BERBAU DARAH
Kalau angin boleh menyampaikan pesan tangkap setiap perkataan yang terucap pasti dunia terhias cantik dengan pertuturan yang beradab.
Cuma hujan berbau darah kerana pengumpat telah tewas sejak permulaan cacian kejian didengar terlepaskah dia dari pembunuhan
LAYANG-LAYANG MIMPI
Kata apakah yang harus terlukis
Manakah wajah yang harus tertulis
Kita menduga hakikat seni dalam kejujuran yang selalu sembunyi.
Layang-layang itulah yang
memandu ilusi
ketika aku
sendiri
bertanyakan khabar hati.
Dan aku semakin faham ada mimpi yang selalu kejam
mengembun hasrat di taman larangan.
Majalah Dewan Siswa
Mac 2016
JANGAN GANGGU DIAMKU
Sebab aku orang yang pengecut berhadapan dengan tangis pedih jadi jangan ganggu diamku tunggu aku reda amarahku padam.
Beberapa meter di hadapan ada pohon untuk kita berteduh kita ke sana tidak lagi biar dibakar oleh terik persepsi yang membahang di padang salah faham ini.
BAWA BERMIMPI
Kita tak mampu mengukur kepanjangan waktu bila harus berhenti bila harus meneruskan putaran alat pengukur masa sekalipun tidakkan dapat menewaskan waktu yang sebenar.
Mengarahkan tiupan angin persepsi
Bawa bermimpi.
LAZAT
Jangan cuba-cuba berharap menjadi yang dipandang sebab pada kedudukan ini kau kan berkeputusan untuk menjadi seorang yang terlalu perahsia.
Figura adalah hidangan lazat mulut manusia.
BERHARAP LAGI
Kesabaran berakhir dengan kemanisan kejujuran berbalas dengan keikhlasan kemaafan berjawab dengan ketundukan.
Kita selalu sakit
mengharapkan kesemuanya hadir walau satu kali dalam hidup.
Dan kita tak pernah serik untuk berharap lagi sebab angan-angan adalah hiburan dalam gelap sunyi terkilan.
BERKECAI
Kepercayaan tak lagi tumbuh setelah racun khianatmu tertumpah di tanah perjanjian kita.
Aku tak lagi mengharap lebih selain menunggu jejakmu hilang jangan muncul lagi- pergi!
Pandang aku kali terakhir dan aku masih tersenyum dengan hati berkecai.
BAHASA KITA
Di hadapan cermin wajah itu cuma mewakilkan bahasa hati segala yang sunyi sepi.
Sebab rasa tak sempurna menjadikan manusia serba salah yang panjang untuk melakukan kejahatan dan selalu mengharapkan perlindungan Tuhan.
PERSEPSI TERBIAR SEPI
Terima kasih wajah tenang
Sebab membuat dada lapang
Sampai menjadi yakin
Kesabaran dipandang Tuhan.
Terima kasih wajah tenang
Sebab menasihatkan kehidupan
Tak perlu kusut dengan sangkaan.
Terima kasih wajah tenang Sebab mencerminkan persepsi Akhirnya terbiar sepi.
Kepada wajah tenang
Engkaukah puisi Yang selalu dicintai penyair Di tengah laman nurani
AKSARA DUNIA MAGIS
(pesanan kepada penulis)
Kita berhasil menangkap mata mereka dengan keindahan aksara cuma kita lebih terbiasa menelan pahit kata-kata sendiri sebelum mereka mencipta persepsi.
Aksara adalah dunia magis bertebaran di dalamnya kepingan-kepingan hati yang sesungguhnya faham tapi sukar untuk meluahkan.
Kita pemegang tongkat sakti jangan menyalahgunakan sampai mengundang murka Tuhan.
FIKRAH SI BUTA
Butakah dia
bila langkahnya tak gugup pada bahaya dengarnya waspada nafasnya tiada wasangka dia berjalan tanpa curiga penuh yakin.
Tongkatnya ketuk pada bata lalu mendongak- matanya pejam kemudian dia menghunus kata lihat ini (hujung tongkat ditujah ke wajahku) dia ini cahaya setia gelapku dia ini perisik mata pejamku dia ini teman kala sendiriku mengatur langkah kembara ilmu dia ini peneman dari Dia buat seluruh anggotaku yang akur papa papa dari keluhan pada suatu kekurangan.
Diam aku masa itu diam orang bisu lebih layak cerminan lemahnya upaya dari dia yang buta.
BERHENTI MENYALAHKAN
Setelah bangau membenam paruh dia kegemukan sebab tak lagi menyalahkan ikan yang tak muncul di permukaan.
Rantaian makhluk lain tenteram melakukan tugas seperti biasa tidak lagi bersilih ganti menyalahkan demi bangau yang ternyata salah.
Dan ular lebih mahu berkata
bukan cuma katak makananku.