LELAKI-LELAKI MERBAHAYA - 122
Isi surat yang aku tulis hari itu:

Malam tu emosi aku membuak-buak, resah tanpa kata, panas seperti lava ingin melepas keluar dari gunung berapi. Kalau Tuhan pandang aku ketika itu, mungkin Dia letupkan hatiku daripada biarkan aku merana sebegitu. Tampak bersih di luar, kucar kacir mencari nyawa di dalam. Tapi Dia Maha Bijaksana, membiarkan aku hidup dan belajar dari kesilapan. Belum tiba masanya untuk aku memakai kain kafan.

Tapi surat tu masih baring di atas meja kecilku, diselimuti dengan sampul surat yang belum ditutup rapi. Mungkin... tak, sebab yang sebenarnya ternyata. Aku belum hantar surat itu sebab aku risau mungkin sudah terlambat untuk bersikap ikhlas, bukan sebab setem tak ada.

Aku baring atas katil, meraung, menggenggam kuat rambut sendiri hingga hendak tercabut dari kulit kepala.