BERLARI DARI JOGJA UNTUK CHRISTIANA - 7
We are coffeehouse cynics,

Too righteous, too rigid to believe Disappointed romantics,

Scraping the hearts from our sleeves

Were the toothless drunk,

Were the ageing punk

Yeah, we are Adam,

Were the apple and were Eve

We are beggars with shiny pennies, on our knees

Fairytale & Firesides, Mike Ross

PAK GDE PUTRA menarik sampannya naik ke atas. Dua nelayan yang sampai lebih awal berlari ke arahnya, dan membantunya menaikkan Kimud.

Kimud ialah nama sampan layar ini. Kimud berkaki dua, di kiri dan kanan. Semalam ketika sampai lewat Maghrib, aku keliru membayangkan entah apa benda berkaki dua bersusun sepanjang pantai rapat sekali.

Lebih keliru (jangan berani kau persoalkan yang ini), ketika kami bangun pagi ini, semua sampan-sampan itu sudah hilang! Aneh sekali, fikirku tatkala merenung keluar pondok kecil kami dan melihat ombak menumbuk-numbuk pasir hitam pantai Amed ini. Rupanya sudah siang, dan kami sang pengembara ini keliru mengingatkan di dalam pondok suasananya masih malam.

Kemudian sampai lagi sebuah sampan di bahagian kiri Kimud. Pak Gde Putra berhenti mengeluarkan pukatnya, dan bergegas menangkap kaki sampan tersebut. Mereka bergotong-royong menaikkan sampan ini pula.

Banyak dapat hasilnya Pak aku membuka bicara buatbuat handal.

Pak Gde Putra melihatku, kemudian langsung bergerak semula menurunkan pukatnya.

Entahkan 200, entah 500, jawabnya perlahan sambil tersenyum.

Dari mana kamu tanyanya lagi, sambil mula mengeluarkan ikan dan memasukkan ikan-ikan tersebut di dalam baldi.

Negara seberang Pak, jawabku laju.

Malaysia

Ya...Paling banyak, berapa bisa peroleh ikan ini Pak

Dua ribu...ikut nasib...

Kalau 2 ribu itu, berapa bayarannya Pak

5 juta,

Bapak rumahnya di mana

Atas bukit sana,

Atas bukit Berapa jauh, Pak

30 menit, mau mampir

30 menit Aduh jauh tu Pak kalau naik bukit,

Iya, kalau turun bisa 15 menit aja,

***

Jujurnya, aku tak fikir ini 30 minit pendakian. Pertama, aku fikir ini kerja gila. Aku sendiri tak mampu ikut pace Pak Gde Putra. Dia naik bukit ni macam labah-labah kena kejar dengan ular. Kedua, bila dah naik, kan satu hal pula nak turun Ketiga, bila nak sampai Dah berapa rumah kami tempuh, berapa ladang kami langgar, tak sampaisampai lagi.

Akhirnya setelah 1km mendaki macam orang gila, kami sampai. Aku bersyukur ke hadrat Tuhan betapa aku masih hidup ketika sampai. Pemandangan dari atas memang mengasyikkan, masalahnya aku masih belum boleh bernafas dengan normal. Inikah jarak Pak Gde Putra turun naik tiap hari ke laut

Ketika sampai, rumahnya kosong. Aku ni tak berapa reti mengagak, tapi yang paling tepat dan waras boleh aku fikirkan sekarang ialah mungkin luasnya rumah beliau sekitar 200 meter persegi, tak lebih dari 400. Kalau di KL, besar lagi master bedroom yang budak-budak mahasiswa kita dok duduk.

Tiada orang di rumah selain ibunya yang kini berumur 84 tahun. Isterinya, Wayan Kerti sedang sibuk ke rumah saudara membantu mempersiapkan upacara keagamaan. Kami berbual mengenai anaknya, Eka Widyana, 15 tahun dan cerita tentang cita-citanya untuk menjadi buruh pembinaan di Karangasem kerna tidak berminat untuk menyambung pengajian ke Sekolah Menengah Atas. Mengetahui kami Muslim, penduduk asli Bali beragama Hindu ini tidak lokek membakar ikan dengan garam untuk kami serta menggoreng jagung sebagai tanda hormat menerima tetamu. Kami juga berbual lewat Komang Oka, adik Eka yang berumur 12 tahun, katanya yang sering saja mengikut bapanya ke laut, berbeza dengan Eka yang kerapkali mabuk laut.

Ketika turun kepalaku berat memikirkan realiti kehidupan asli Bali ini. Hari ini, Pak GdePutra hanya memperoleh tangkapan sekitar 40 ekor ikan Tongkol. Entah bagaimana nasibnya kelak jika pihak hotel membuat keputusan untuk menjual dan meletakkan status pantai sebagai pantai persendirian

Di mana perlu beliau meletakkan Kimud Di Bali sendiri kini, sentimen penolakan terhadap penambakan Teluk Benoa paling hangat. Aku sendiri jika tak berkunjung ke sini, entah yang aku tahu tentang Bali hanyalah pantainya yang cantik.

Dari Ubud, Kuta, Sanur membawa ke Denpasar, paling berharga aku fikir ialah pengajaran dari Pak Gde Putra tentang betapa mudahnya hidup. Serta betapa mudahnya untuk menjadi Superman.

Untuk jadi hero tak perlu pakai sut atau boleh terbang. Cukup dengan kemahuan untuk terus hidup. Dengan itu, kau menghidupkan yang lain. Di Bali, Superman seperti Pak Gde Putra tak mati.

Ironi.

Sebuah pulau, cantiknya seperti lukisan, Yang penuh adat dan upacara,

Dihuni asli manis di celah sawah dan bukit,

Kini sedang digigit kapitalis,

Yang rakus merogol setiap penjuru pantai, Dan menjual hijau sawah kepada, Para pemborong.

Gilanya manusia,

Yang berani menjual adat dan upacara, Serta 1000 lukisan alam untuk, Memenuhkan poket elitis.

Dan kita, tergigit-gigit manisnya pulau ini - di dalam ingatan.

Amed,

7 Sept 13, 1759.