umpama si bulan kembali memeluk bintangnya umpama si ibu kembali menetek anaknya umpama aku yang kembali mengenang apa yang pernah berlaku terhadap diriku dulu... ya, di masa aku tidak lagi memenuhi ruang isi dalam isis aku dengan jelaga celaka buatan dunia... di hari aku dibangkitkan atas tujuan mahu menjadi sesuatu yang bakal memberi makna...
di pagi aku tidak harapkan apa-apa sahaja atau sesalkan apa-apa mahupun meratapi apa-apa... zaman gemilang aku yang masih menunggang BMX kecil yang diberi oleh abah... di hari basikal petak menjadi kegilaan... di hari Tamiya menjadi pencarian... di hari dimana makcik kantin menjual sebiji nugget dengan harga seringgit... di hari aku tidak meriasaukan apa-apa...
Di hari dimana apa yang akan berada di masa ini adalah amat kabur sekali...
di hari jiwa kecil aku merasakan seperti boleh menawan dunia...
Aku merindui saat-saat itu.
Saat aku tak menegenal apa itu Winston, Marlboro, John, Suria, Nusantara atau apa lancau saja nama yang ada... saat aku tak mengenal sial malam yang dijulang-julang menjadi Tuhan keparat pesta liar, buih-buih kencing celaka yang diteguk tanpa rasa berdosa... saat di mana isi-isi di sebalik tabir hawa masih jauh di luar jangkaan sulaman jari... dan cipap-cipap yang aku sudah rodok dan sepasang gombolan yang digunungkan, sengaja bagi tatapan matamata setan yang menginginkannya...
saat dimana aku tak tau apa itu batu, kuda, pill, ecstacy dan segala jenis keparat babi yang dicari golonganku... saat di mana tanggungjawab masih lagi bukan di bahu kanan dan kiriku... saat aku masih suci...
saat dimana aku belum lemas ke lendiran lumpur hitam yang membunuh aku...
Saat itu...
aku kuburkan di pusara sayu tepian sungai hidup yang terus berlalu membasuh pusara itu... dan taburan bunga titis air mataku yang menyesali akan sepeninggalannya... biar, biarkan ia terus di situ... selagi nyawa aku belum berhenti... aku terus meratapi hari-hari itu...