PEREMPUAN-PEREMPUAN MERBAHAYA - 92
Mataku meliar kosong pada keringat tanah dijilat tumit manusia

Sebilangan marga berjalan mabuk bergelas campuran anggur Menelanjang setelah gagal untuk mati

Bagaimana lagi untukku khusyuk menyurat syair dengan jari

Meliuk-lentok dakwat dari rumah puisi

Hasilnya sepi

Seperti buih melintas cuping

Seperti sawang yang menjalang di dinding.

Ah, usah disoal adu domba pada dingin keliwon. Jiwamu masih tak terselimut tuk mendandan sanggul sajak nan halus!

Aku telah lemas dalam pemberontakan akal sendiri

Kebas dalam layaran kapal kertas hanya demi mencatat sebaris puisi

Lalu ku berhenti di sini.